
Prof. Dr. KPH H. Katno Hadi saat ditemui di Bandara Internasional Adi Soemarmo, Minggu (9/8/2026). Ia tengah menyiapkan rencana bisnis peternakan sapi secara bertahap.
SOLO – Pengusaha sekaligus Guru Besar bidang ekonomi pariwisata, Prof. Dr. KPH H. Katno Hadi, SE, MM, MH, tengah menyiapkan rencana bisnis peternakan sapi. Usaha tersebut dirancang dimulai dari sekitar 200 ekor sapi dan secara bertahap ditargetkan berkembang hingga 2.000 ekor.
Rencana itu masih berada pada tahap kajian dan persiapan. Katno mengatakan berbagai aspek perlu dihitung sebelum investasi diperbesar, mulai dari lokasi, bibit, pakan, tenaga kerja, biaya operasional hingga kepastian pasar.
“Kalau peternakan sapi ini saya nol, betul-betul nol. Saya harus cari. Peternakan ayam pun saya juga ada konsultan. Sapi juga demikian. Kita mau uji coba dulu,” kata Katno saat ditemui di Bandara Internasional Adi Soemarmo, Minggu (9/8/2026).
Katno menjelaskan, tahap awal peternakan akan dimulai dengan sekitar 200 ekor sapi. Hasil uji coba dan evaluasi nantinya menjadi pertimbangan untuk menentukan pengembangan usaha berikutnya.
“Harapan kami minimal pertama 200 ekor, kemudian akan kita kembangkan dengan target 2.000 ekor,” ujarnya.
Dengan pola tersebut, ekspansi peternakan tidak langsung dilakukan dalam skala besar. Katno memilih menguji sistem terlebih dahulu sebelum menambah jumlah ternak dan investasi.
Dua wilayah disebut menjadi pertimbangan lokasi peternakan, yakni Karanganyar dan Wonogiri.
Karanganyar menjadi salah satu opsi karena, menurut Katno, wilayah tersebut memiliki tata kelola dan kawasan yang mendukung pengembangan peternakan. Ia juga telah memiliki pengalaman mengelola peternakan ayam di wilayah tersebut.
Sementara itu, Wonogiri menjadi alternatif karena adanya respons positif dari pemerintah daerah. Namun, lokasi final belum ditetapkan karena masih harus mempertimbangkan kesesuaian lahan dan kebutuhan operasional.
Salah satu pertimbangan Katno mengembangkan bisnis peternakan sapi adalah peluang pasar daging. Ia melihat usaha kuliner, terutama industri bakso di Wonogiri, memiliki kebutuhan bahan baku yang berkelanjutan.
Dalam bahan keterangan yang disampaikan, produk bakso dari Wonogiri disebut telah memiliki pasar di berbagai daerah. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam mengkaji kemungkinan membangun rantai pasok daging dari peternakan hingga kebutuhan industri makanan.
Katno juga menyebut harga daging sapi berada di kisaran Rp155.000 per kilogram sebagai salah satu pertimbangan dalam kajian bisnisnya. Angka tersebut merupakan keterangan dalam wawancara dan tidak diposisikan sebagai data harga pasar terkini.
Menurut Katno, ketersediaan sumber pasokan sendiri dapat membantu pengelolaan kebutuhan bahan baku secara lebih terencana. Namun, rencana tersebut masih membutuhkan kajian lebih lanjut sebelum direalisasikan.
Sebelum merencanakan peternakan sapi, Katno mengaku telah memiliki pengalaman mengelola peternakan ayam petelur selama sekitar delapan tahun.
Meski demikian, ia menilai karakter bisnis sapi berbeda dengan peternakan ayam. Karena itu, pengalaman sebelumnya tidak langsung diterapkan tanpa penyesuaian.
“Ini beda ternyata. Tapi lebih mudah daripada ayam. Kalau saya pelajari, lebih mudah sapi. Cuma kita harus membuat itu jangan terus pakannya manual,” katanya.
Untuk mendukung persiapan tersebut, Katno menyebut dirinya menyiapkan konsultan yang akan membantu memahami berbagai aspek bisnis peternakan sapi, termasuk persoalan bibit dan pakan.
Selain lokasi dan pakan, manajemen menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatian dalam rencana tersebut.
Katno menilai besarnya modal dan potensi pasar saja tidak cukup untuk menjamin keberlangsungan sebuah usaha. Sistem pengelolaan dan manajemen tenaga kerja juga menjadi bagian penting yang perlu dipersiapkan.
“Bisnis itu saya tahu ada yang bisa collapse. Ini karena sistem manajemen. Asalkan manajemen kita benar, manajemen kepegawaiannya benar, insyaallah masih bisa survive,” tegasnya.
Karena itu, berbagai aspek akan dikaji sebelum peternakan direalisasikan. Kajian tersebut mencakup lokasi, bibit, pakan, tenaga kerja, sistem pengelolaan, biaya operasional serta kepastian pasar.
Rencana peternakan sapi Katno Hadi saat ini belum masuk tahap produksi dalam skala yang ditargetkan. Tahap awal sekitar 200 ekor akan menjadi bagian dari uji coba sebelum dilakukan evaluasi.
Jika hasil evaluasi dinilai sesuai dengan perencanaan, jumlah ternak akan dikembangkan secara bertahap hingga mencapai target 2.000 ekor.
Pendekatan tersebut menempatkan pengujian sistem dan pengelolaan sebagai bagian penting sebelum ekspansi dilakukan. Adapun lokasi final peternakan serta waktu dimulainya usaha masih menunggu hasil kajian dan persiapan.
Bagi Katno, rencana tersebut merupakan bagian dari upaya membaca peluang pasar sekaligus memastikan aspek teknis dan manajemen telah dipersiapkan sebelum investasi diperbesar.(Ghoni/Ac)